seberapa tulus hatimu padaku, sebuah catatan akhir
March 10th, 2007 by thiwieluna-smilelySiapa saya yang menilai atau menghakimi seseorang?
kalimat di atas sering sering sekali kita dengar. barangkali pun sering kita ucapkan. ketulusan adalah sesuatu yang seharusnya juga kita masukkan dalam kalimat diatas. sehingga secara implisit kalimatnya menjadi : siapa saya yang bisa menilai ketulusan seseorang atau menghakimi tulus tidaknya seseorang?
seperti juga keikhlasan, ketulusan (yang saya anggap part dari ikhlas) salah sesuatu yang tidak memiliki alat ukur yang jelas. lalu apa indikator seseorang tidak tulus? apa indikator seseorang tulus? adakah tips-tips mengenali bentuk ketulusan or ketidaktulusan ini?
saya tidak tau jawabannya. saya lebih khawatir pada kesalahan saya mengenali bentuk ketulusan, dibandingkan mengkhawatirkan orang-orang yang memasang wajah tulus di hadapan saya.
bagaimana jika mereka mengatakan hal itu justru untuk mengecilkan hati kita. jahatnya begitu. sebab kita yang tiap hari bercermin tahu bentuk apa kata cermin tentang diri kita. dan kita misalnya sama sekali tidak masuk kriteria cantik fisik. apakah kita harus meras sedih atau marah karena mereka tidak tulus? justru mungkin diam-diam menertawakan kita di belakang?
ah, terus kenapa pula jika mereka memang menertawakan kita, jika mereka tidak tulus? apakah kita menjadi lebih kecil dan tidak berarti? tentu tidak. arti diri kita, nilai dari kita … kitalah yang menentukan. sepenuhnya di tangan kita. bukan di tangan orang lain.
dengan menilai orang lain tidak tulus, menilai orang lain bermaksud ini itu, memiliki kepentingan-kepentingan tertentu…mungkin kita benar. lalu jika benar, apa poin lebih bagi kita?
TAPI, bagaimana kalau kita salah menilai? semua yang kita anggap sebagai bagian dari ketidaktulusan justru merupakan ketulusan?
ahh. apa pula arti ketulusan?? Apakah ketulusan harus sesuai dengan apa yang KITA inginkan? sesuai dengan definisi dan batasan-batasan KITA tentukan? sehingga jika ada yang melakukan sesuatu di luar rambu-rambu KITA tetapkan, kita anggap tulus?
"Kalau dia tulus harusnya begini dong.." "Kalau tulus dia nggak mungkin begitu.."
kenapa ketulusan harus kita yamg menjadi juri, harus menurut kacamata kita? lalu dimana kita meletakkan poin, menghormati sebuah perbedaan? bahwa ada orang lain yang memang berbeda, bahasa, budaya, agama,…
ketika seorang memilih bersikap berbeda semata-mata karena upaayanya menjadi hamba Allah yang lebih baik, dan bukan alasan-alasan lain, tanpa bermaksud menyakiti orang lain. jika kemudian sikapnya tidak sesuai dengan keinginan kita, kacamata kita, atau apa yang kita percayai, apakah dia menjadi tidak tulus?
ketulusan itu, biarlah Dia yang menilai sepenuhnya. sebab memang terlalu rumit untuk kacamata manusia.
manusia dengan kemampuan pikir, hanya boleh berasumsi, boleh mengira-ngira. tapi dengan tetap menghidupkan kesadaran : Allah, betapa terbatasnya mata kita, betapa luasnya pandanganMU.
Terbukti kita seringkali salah menilai seseorang… " saya kira dia suka ini…ternyata tidak, "kelihatannya orangnya pendiam ya…ternyata kok rame. begitu banyak ternyata-ternyata lain.
buat saya, saya tidak ingin meletakkan kebahagian saya, di tangan orang lain. sebuah pujian tidak akan membuat saya bertambah kaya, sebab saya tahu…di mataNYA, begitu banayak cela dan cacat daya, begitu banyak ketidaksempurnaan saya, begitu kecilnya saya…
tetapi, sebuah ketidaktulusan, juga tidak boleh menyakiti, apalagi mengubah dunia saya. ikhlaskan saja.. tapi jadikan ketidaktulusan yang kamu temui, apakah asumsi atau kemudian terbukti dimana saja, kapan saja… siapapun yang melakukannya sebagai pelajaran dan bekal untk menjadi labih tulus dari kemarin.
sebab saya tidak ingin membuat hati-hati lain retak karena saya bersikap tidak tulus.
saya harus tulus. bukan orang lain
saya yang tidak boleh tidak tulus. bukan orang lain.